Beberapa bulan lalu saya membaca sebuah berita menarik di media social, seorang musisi jazz favorite saya, Indra Lesmana mencari pemain band berbakat untuk sebuah project nya. Dan cukup mengejutkan saya bahwa project yang akan dibuat adalah sebuah project music progressive metal dengan mengusung nama ILP. Bagi yang belum mengenal seperti apa musik progressive metal, kita bisa mencari referensi mengenai musik band progressive metal terkenal di amerika yaitu Dream Theater (walau cukup banyak band yang mengusung genre musik ini, Dream Theater-lah contoh yang lebih akrab di telinga orang Indonesia karena beberapa kali sudah pernah manggung di Jakarta).

Jika melihat profile Indra Lesmana, putra dari Almarhum Jack Lesmana (musisi Jazz legendaris tanah air) ini pernah berkarir dengan gemilang di jalur musik Pop di era awal tahun 80-an bersamaan dengan Fariz RM, Chrisye, dan lain-lain. Karya nya cukup banyak dan bagus dari segi musikalitas (Indra pernah belajar sekolah musik di Australia dan sejak dulu sudah sering berkolaborasi dengan musisi mancanegara). Yang paling berkesan buat saya adalah ketika Indra Lesmana bergabung di Band Jazz Krakatau bersama Dwiki Darmawan, Tri Utami, Gilang Ramadhan, Donny Suhedra dan lain-lain.

Begitu kuatnya Brand Indra Lesmana di kancah musik tanah air di genre fusion dan jazz, dan saat ini (di usia yang sudah tidak muda lagi) dia berkarya (memproduksi album) dalam genre progressive metal. Dari fan base nya saja (penggemar) sudah sangat jauh berbeda dengan genre musik Jazz. Pastinya Indra Lesmana ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Tetapi, apakah dia ingin serius mencoba segmen market yang baru (genre metal), atau hanya sekedar (iseng) memperkaya portfoio dari sekian deret karya musik nya? Saya tidak mendapat jawaban langsung darinya karena pada saat selesai menyaksikan live concert ILP, saya tidak menghadiri acara jumpa pers. Menurut informasi yang saya dapat di beberapa media sosial, Indra mengatakan bahwa dia ingin keluar dari zona nyaman dan ingin menjawab tantangan baru.

Dalam dunia Marketing, kita mengenal yang namanya diversifikasi. Kita lihat saja di sekeliling kita, misalnya Aqua, sebuah produsen air mineral terkenal baru saja launching sebuah minuman teh yang dikemas di dalam botol plastik, penyanyi dangdut dan pop terkenal membuka usaha karaoke,  produsen komik terkenal bukan hanya mengusung teman superhero (orang yang memiliki kekuatan super), tetapi juga cerita mengenai non superhero (The loosers dari DC comic dan Watson and Holmes dari Marvel),
Toyota, raksasa manufaktur mobil dunia memproduksi mobil listrik untuk menyaingin tesla dan masih banyak lagi sederet contoh diversifikasi.

Lalu bagaimana jika dilihat dari kacamata Human Capital? Apakah kita bisa mengubah 'brand' kita dalam berkarir?  Kapan saatnya kita dapat ‘mengubah haluan’? atau diversifikasi? Apakah ada batas usia atau pengalaman tertentu agar tidak terlalu berisiko ?

Kita sering perhatikan di iklan lowongan kerja, untuk posisi tertentu perusahaan mensyaratkan batas usia tertentu bagi pelamar. Kira-kira apa saja pertimbangannya? Pada umumnya perusahaan menerima pekerja baru dari generasi muda, yaitu usia dibawah 30 tahun,  alasannya adalah dibawah usia tersebut karyawan masih dapat mudah untuk mempelajari hal baru sehingga mudah pula untuk mengikuti norma dan budaya dari perusahaan baru. Ada yang sering dilupakan oleh para karyawan dalam berkarir, bahwa sebenarnya selain kompetensi (skill, knowledge dan attitude) ada faktor penting yang juga harus kita anggap sebagai investasi terbesar, yaitu waktu. Khususnya waktu dalam mengakuisisi kompetensi tersebut. Semakin dini kita mendapatkan kompetensi, semakin menguntungkan kita dalam mem-‘branding’ diri kita dalam sebuah keahlian tertentu (istilah kerennya adalah personal branding). Itulah mengapa pada saat proses rekrutmen karyawan baru, pertimbangan aktivitas calon karyawan di saat kuliah menjadi pertimbangan (di bangku kuliah maupun di organisasi, untuk mendapatkan hard dan soft skill).
 
Semakin bertambah usia, pemahaman yang didapat untuk memantapkan pilihan karier atau mengubah haluan akan semakin baik. Semakin dini seorang karyawan mengetahui apa yang menjadi tujuannya, semakin besar peluang untuk kesuksesan kariernya. Tetapi semakin lama kita dalam mendapatkan kompetensi tersebut (bekerja bertahun-tahun tetapi kurva belajarnya  rendah), semakin sulit kita untuk dapat leluasa dalam membangun personal branding.

Apakah personal branding kita bisa dapatkan dari jabatan yang kita miliki? Jawabannya bisa ya dan bisa tidak. Branding tidak dilihat hanya dari jabatan atau status yang kita miliki, tetapi dari kompetensi dan leadership. Tidak selalu jabatan seseorang mencerminkan kompetensi nya. Kita dianggap ahli dari suatu bidang atau memiliki leadership yang baik bisa saja dari level staf, tidak harus menunggu menjadi level jabatan yang tinggi. 

Lalu, kapan kita dapat memutuskan untuk membuat branding baru atau berganti haluan? Jawabannya adalah hanya ketika branding kita sudah kuat. Jangan sekali-kali kita mengubah haluan jika kita masih dianggap seorang ‘Rookie’ (anak baru). Seorang Indra Lesmana berani untuk bermain di segmen market baru karena personal branding dia sebagai musisi sudah sangat kuat. Jadi risiko yang didapat dengan project baru nya akan dianggap kecil. Anda bisa bayangkan jika dia belum dikenal di kalangan penggemar musik?

Bagaimana jika kita ingin menciptakan branding diri tetapi karena suatu alasan penempatan atau rotasi, kita dipindah ke bagian yang berbeda dengan bidang kita sebelumnya? Pertama, perusahaan memiliki alasan yang sangat kuat ketika harus memindahkan seseorang karyawannya ke unit lain, yang utamanya adalah ‘sebagai syarat pembekalan ilmu dan ketrampilan baru yang dibutuhkan untuk jenjang yang lebih tinggi’. Jika alasannya demikian, kondisi di atas tidak akan berpengaruh dalam branding yang akan kita ciptakan untuk diri kita, bahkan itu akan memperkaya.

Kedua, saat ini teknologi semakin canggih. Untuk membangun sebuah kompetensi, kita dapat belajar dimanapun kapanpun. Lembaga pelatihan atau pendidikan online sudah sangat mudah ditemukan. Jika kita memiliki passion akan suatu bidang, kita akan tetap dapat mengejarnya di sela-sela waktu bekerja, sambil menunggu peluang yang akan datang.

Lalu, kapan kita bisa mengganti haluan atau mengubah branding kita? Jack Ma, CEO dan founder perusahaan besar Alibaba pernah mengatakan bahwa sampai usia kita 30, kita bisa mencoba hal-hal baru. Untuk mengubah haluan atau mengganti bidang karir bisa di usia 30-40 tahun. Bahkan di usia ini kita bisa untuk dapat merintis usaha karena pengalaman kita sudah banyak, tetapi jangan mencoba-coba hal baru bila usia sudah lebih dari 40 tahun. Fokuslah untuk melakukan hal-hal yang kita kuasai atau kita bagus di dalamnya. Mencoba-coba hal baru sudah bukan masanya lagi. Memang selalu ada kemungkinan untuk sukses tapi risiko kegagalan lebih besar, karena banyak hal tak terduga bisa datang. Kita sudah tak punya waktu terlalu banyak lagi untuk memulai dari awal lagi. Jika kita sudah menemukan hal apa yang cocok untuk kita kerjakan dan sudah terbukti memberi kesejahteraan yang cukup, lanjutkan saja.

Kita bisa saja untuk men-deversifikasi personal branding, tetapi dengan satu syarat, yaitu ketika personal branding kita sudah sangat kuat. Jika belum, nasihat dari Jack Ma dapat menjadi pedoman untuk focus kepada apa yang sudah kita kerjakan dengan baik. Mari kita bangun personal brand kita dimanapun. Di tempat kerja maupun di lingkunan social lainnya. Dengan kuatnya personal branding kita (kita dikenal karena kita bagus di suatu bidang), maka kita bisa leluasa untuk mencoba hal baru.